Susi Susanti dan Bulu Tangkis

susi-susanti

Menyaksikan atlit bulu tangkis kita berlaga di Olimpiade, sebagian dari kita akan teringat Susi Susanti, yang meraih medali emas untuk kategori tunggal wanita di Olimpiade Barcelona 1992. Alan Budikusuma, yang kelak menjadi suaminya, pada waktu itu juga meraih medali emas untuk kategori tunggal pria.

Susi Susanti, putri kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, juga menjuarai All-England pada tahun 1990, 1991, 1993 dan 1994, World Badminton Grand Prix dari tahun 1990 hingga 1994 dan pada tahun 1996, serta IBF World Championships pada tahun 1993. Ia merupakan satu-satunya pebulutangkis tunggal wanita yang memenangi Olimpiade, IBF World Championship, dan All-England sekaligus.

Pada tahun 2004, International Badminton Federation (sekarang Badminton World Federation) memberikan penghargaan Hall Of Fame kepada Susi Susanti. (Pebulutangkis Indonesia yang juga memperoleh penghargaan Hall Of Fame dari IBF adalah Rudy Hartono Kurniawan, Dick Sudirman, Christian Hadinata, dan Liem Swie King.)

H.G., 17-08-2016

Achmad Zaky dan Bukalapak.com

AchmadZaky

Siapa yang tak kenal Achmad Zaky, seorang pemuda asal Sragen, Jawa Tengah, yang baru berusia 30 tahun itu? Ia  adalah alumnus Teknik Informatika ITB, angkatan 2004. seorang pengusaha yang bergerak di bidang internet. Bersama teman kuliahnya, Nugroho Herucahyono, Zaky merintis Bukalapak.com sejak tahun 2011, dengan tujuan memberdayakan para pelaku usaha kecil dan menengah di Indonesia, yaitu dengan memberikan wadah (di dunia maya) kepada mereka untuk berjualan dan menemukan pembeli produk mereka. Bukalapak.com sekarang telah dikenal sebagai salah satu perusahaan e-commerce Indonesia berbasis marketplace C2C.

HG, 14-02-2016

Joey Alexander dan Musik Jazz

Joey-Alexander

Usianya belum juga menginjak 13 tahun, tetapi ia telah tampil di acara Grammy Awards 2016 dan dinominasikan untuk dua kategori, yaitu improvisasi jazz solo terbaik untuk lagunya yang berjudul “Giant Steps” dan album jazz instrumental terbaik untuk album perdananya “My Favourite Things” yang dirilis pada tahun 2015. Joey lahir di Bali pada tanggal 25 Juni 2003 dari pasangan Denny Sila dan Farah Urbach. Sejak kecil, telinganya telah akrab dengan musik jazz. Ia belajar piano secara otodidak dan pada usia 6 tahun sudah bisa memainkan bagian melodi lagu jazz terkenal karya Theolonious Monk yang berjudul “Well You Needn’t“. Pada usia 8 tahun, ia bermain piano di hadapan Herbie Hancock yang ketika itu berkunjung ke Jakarta. Pada tahun 2014, Joey bersama keluarganya hijrah ke New York setelah sebelumnya tampil di malam gala Jazz at Lincoln Center atas undangan Wynton Marsalis. Lihat penampilannya di acara Grammy Awards 2016 di sini. Baca kisah tentang Joey selengkapnya di sini.

HG, 18-02-2016

Haryo Sumowidagdo dan Fisika Partikel

haryosumowidagdo

Suharyo “Haryo” Sumowidagdo, lahir di Bali pada tahun 1976, adalah fisikawan yang menekuni fisika partikel. Setelah lulus dari Universitas Indonesia, ia melanjutkan studinya ke Florida State University dan mendapatkan gelar doktornya dari sana. Ia sempat bekerja di CERN (Conseil Européene pour la Recherche Nucléaire) atau European Organization for Nuclear Research, yang memiliki laboratorium percepatan partikel terbesar di dunia di sebelah barat Jenewa, bersama dengan ribuan ilmuwan mancanegara, terutama komunitas fisika partikel. Ia kini telah kembali ke tanah air dan berafiliasi dengan LIPI.

HG, 24-12-2015

Sains45: Agenda Menyongsong Satu Abad Indonesia

SAINS45cover

Pada bulan Agustus tahun 2015, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menerbitkan sebuah buku penting berjudul “Sains45: Agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia Menyongsong Satu Abad Indonesia“. Buku ini ditulis oleh tim yang terdiri dari 17 ilmuwan Indonesia, berisi 8 bab, dengan total 45 tulisan. Hmmm, 17-8-45 ya.. Bila anda penasaran dengan isinya, buku Sains45 dapat diunduh dari situs AIPI.

H.G., 09-10-2015

Nadiem Makarim dan Go-Jek

Nadiem_Makarim

Nadiem Makarim, pemuda yang baru memasuki usia kepala tiga itu, adalah anak dari seorang ayah asal Pekalongan dan ibu asal Pasuruan. Pada tahun 2015 ini, ia meluncurkan PT Go-Jek Indonesia, sebuah perusahaan ojek modern berbasis aplikasi smartphone. Bila anda telusuri rekam jejak pendidikannya, anda tidak akan terkejut. Setelah lulus SMA dari Singapura, ia melanjutkan studi ke Brown University di AS. Gelar MBA-nya kemudian diperoleh dari Harvard Business School. Sempat bekerja di McKinsey & Co Jakarta, Nadiem kemudian memutuskan untuk menekuni dunia ojek, dan lahirlah Go-Jek yang fenomenal itu. Simak gagasannya di sini.

HG, 16-08-2015

Eureka at FAB2015

Cerita dari Festival Anak Bertanya 2015

Oleh: Avivah Yamani*

Mengasah Kepekaan, Mencari Jawaban. Itulah tagline dari Festival Anak Bertanya yang diadakan di Sasana Budaya Ganesa ITB, tanggal 16 Juni 2015. Acara yang diselenggarakan oleh anakbertanya dan SABUGA ITB tersebut dimulai dari ide sederhana bahwa anak punya segudang pertanyaan yang butuh jawaban. Sayangnya, seringkali orangtua maupun guru tidak selalu memiliki jawaban tersebut. Ide yang dimulai dari pengadaan sebuah situs anakbertanya.com untuk menyediakan jawaban dari pertanyaan anak dengan melibatkan para pakar yang bekerja di bidangnya kemudian berkembang menjadi sebuah interaksi yang cukup rutin diadakan oleh anakbertanya bersama mitra kerjanya. Pada akhirnya ide tersebut berkembang dengan sebuah interaksi yang melibatkan lebih banyak lagi komunitas dan lembaga yang memang sering berinteraksi dengan anak.

Festival Anak Bertanya yang berlangsung meriah semenjak pagi hari tersebut disponsori oleh Prudential Indonesia dan diikuti oleh 28 komunitas, lembaga, institutsi yang berkecimpung dalam dunia anak.

Di FAB2015, para peserta yang kesehariannya dekat dengan anak tersebut berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang berasal dari dunia sains, pendidikan, seni, pengayaan, maupun hak asuh anak. Kalau disingkat, bisa kita katakan, FAB2015 membawa anak bertualang dan belajar dari Bumi sampai ke Alam Semesta. Bagaimana tidak, para pengunjung yang sebagian besar adalah anak-anak tersebut diajak untuk mengenal sains dari dekat. Sains yang mungkin sering diasosiasikan sebagai momok yang menakutkan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tak hanya itu, pengenalan sains dan budaya pun bisa diaplikasikan dalam permainan. Menyenangkan bukan? Matematika atau pelajaran sejarah yang kerap membosankan ternyata bisa menjadi super menyenangkan! Anak bisa mengenal tokoh sejarah dan berbagai kejadian yang terjadi di masa kemerdekaan Indonesia. Bahkan anak pun bisa mengenal budaya Indonesia lewat dongeng, dan belajar bercerita kepada teman-temannya.

Dan jangan salah. Anak-anak tidak sekedar diajak bermain, mereka pun bisa mengeksplorasi kemampuan untuk mebuat sendiri permainan mereka. Bahkan tak hanya permainan. Anak juga bisa belajar untuk membuat aplikasi yang dia inginkan atau juga robot. Tentunya semua anak pernah bermimpi dan bercita-cita untuk membuat sesuatu kan?

Dalam acara FAB2015 yang dilaksanakan selama sehari dan didukung juga oleh PT Pos Indonesia, PT LAPI ITB, ITB82, JG Motor dan PT Jaya Makmur Tangkas, anak yang hadir juga diajak untuk mengenal dan menjaga lingkungan. Ini penting untuk menanamkan prinsip pentingnya lingkungan dan bagaimana menjaganya semenjak dini. Penyajian film Petualangan Banyu menjadi salah satu cara untuk membangun kesadaran anak akan lingkungan.

Kreatifitas dan keberanian anak juga bisa dilatih lewat olah gerak seperti sepatu roda yang disajikan dengan sangat apik sementara para orang tua muda yang memimpikan generasi yang handal di masa depan juga ikut serta mengajak para orang tua dan anak untuk mengenal lebih jauh bagaimana pola pengasuhan anak yang baik. Dari sisi hak asuh anak, ada beberapa lembaga yang ikut serta yang juga menyajikan pengenalan tentang anak berkebutuhan khusus maupun lembaga mitra anakbertanya yang berkecimpung dalam penyediaan rumah bagi anak. Anak juga diberi informasi tentang bagaimana menabung dan mengelola keuangan oleh Prudential Indonesia.

Itu di Bumi! FAB2015 juga mengajak anak bertualang mengenal antariksa dan menjaga Bumi dari polusi cahaya. Pengenalan antariksa dari beberapa komunitas dan lembaga yang ikut terasa semakin nyata dalam sebuah petualangan antariksa ketika anak bisa menikmati itu dalam tayangan Planetarium Mini yang dibawa khusus oleh LAPAN.

Festival Anak Bertanya ini dikemas dalam bentuk semi pameran dimana para peserta memiliki booth tersendiri dan setiap anak bisa datang langsung berinteraksi atau bertanya pada para ahlinya, maupun pengenalan komunitas dan lembaga lewat presentasi interaktif di panggung. Di sini, para peserta harus dapat bercerita semenarik mungkin tentang siapa dirinya. Presentasi menjadi tidak membosankan, karena selain setiap peserta kreatif bercerita, acara juga diselingi oleh berbagai penampilan seperti tarian, musik daerah, maupun belajar menyanyi lagu-lagu yang memang khusus dibuat untuk anak.

Tapi, tak ada acara yang berakhir. Di penghujung hari, Festival Anak Bertanya 2015 pun ditutup dengan harapan setiap pengunjung cilik yang hadir bisa memperoleh jawaban dari pertanyaannya dan mengasah kreatifitas dan kemauan untuk mewujudkan mimpi mereka di masa depan. Dan yang pasti FAB2015 tidak akan berhenti sampai di sini. Sampai jumpa di FAB 2016.

*Avivah Yamani adalah salah seorang pendiri langitselatan.com.

Bandung, 19-06-15