Raymond R. Tjandrawinata dan Obat Herbal

raymond

Pada penganugerahan Habibie Award 2016, ada sosok menarik yang menggulirkan kata sciencepreneurship — ia adalah Raymond R. Tjandrawinata, arek Suroboyo, anak dari seorang TNI AL – Lukito Tjandrawinata – Veteran Pejuang Angkatan 1945. Raymond menyebut dirinya sebagai seorang industrial scientists. Rupanya, dugaan sebagian besar orang selama ini bahwa di Indonesia tidak ada industri yang berbasis riset salah. PT Dexa Medica, tempat di mana Raymond bekerja sebagai Direktur Eksekutif, adalah contoh penyangkalnya. Industri yang berkecimpung dalam obat-obatan herbal ini memproduksi obat berbasis riset yang mereka lakukan, yang dipimpin oleh Raymond. Publikasinya tak kalah produktif dari para peneliti di perguruan tinggi. Atas inovasinya dalam pengembangan obat-obatan, pada awal tahun 2015, PT Dexa Medica meraih penghargaan dari Menko bidang Pengembangan Manusia dan Kebudayaan. Raymond sendiri pernah mendapat The Swa Indonesia Future Business Leader Award dan diangkat sebagai ‘Fellow‘ oleh The Royal Society of Chemistry dan The Society of Biology. Pada tanggal 5 Oktober 2016, ia menerima Habibie Award dalam Bidang Ilmu Kedokteran & Bioteknologi.

H.G., 07-10-2016

Susi Susanti dan Bulu Tangkis

susi-susanti

Menyaksikan atlit bulu tangkis kita berlaga di Olimpiade, sebagian dari kita akan teringat Susi Susanti, yang meraih medali emas untuk kategori tunggal wanita di Olimpiade Barcelona 1992. Alan Budikusuma, yang kelak menjadi suaminya, pada waktu itu juga meraih medali emas untuk kategori tunggal pria.

Susi Susanti, putri kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, juga menjuarai All-England pada tahun 1990, 1991, 1993 dan 1994, World Badminton Grand Prix dari tahun 1990 hingga 1994 dan pada tahun 1996, serta IBF World Championships pada tahun 1993. Ia merupakan satu-satunya pebulutangkis tunggal wanita yang memenangi Olimpiade, IBF World Championship, dan All-England sekaligus.

Pada tahun 2004, International Badminton Federation (sekarang Badminton World Federation) memberikan penghargaan Hall Of Fame kepada Susi Susanti. (Pebulutangkis Indonesia yang juga memperoleh penghargaan Hall Of Fame dari IBF adalah Rudy Hartono Kurniawan, Dick Sudirman, Christian Hadinata, dan Liem Swie King.)

H.G., 17-08-2016

Achmad Zaky dan Bukalapak.com

AchmadZaky

Siapa yang tak kenal Achmad Zaky, seorang pemuda asal Sragen, Jawa Tengah, yang baru berusia 30 tahun itu? Ia  adalah alumnus Teknik Informatika ITB, angkatan 2004. seorang pengusaha yang bergerak di bidang internet. Bersama teman kuliahnya, Nugroho Herucahyono, Zaky merintis Bukalapak.com sejak tahun 2011, dengan tujuan memberdayakan para pelaku usaha kecil dan menengah di Indonesia, yaitu dengan memberikan wadah (di dunia maya) kepada mereka untuk berjualan dan menemukan pembeli produk mereka. Bukalapak.com sekarang telah dikenal sebagai salah satu perusahaan e-commerce Indonesia berbasis marketplace C2C.

HG, 14-04-2016

Joey Alexander dan Musik Jazz

Joey-Alexander

Usianya belum juga menginjak 13 tahun, tetapi ia telah tampil di acara Grammy Awards 2016 dan dinominasikan untuk dua kategori, yaitu improvisasi jazz solo terbaik untuk lagunya yang berjudul “Giant Steps” dan album jazz instrumental terbaik untuk album perdananya “My Favourite Things” yang dirilis pada tahun 2015. Joey lahir di Bali pada tanggal 25 Juni 2003 dari pasangan Denny Sila dan Farah Urbach. Sejak kecil, telinganya telah akrab dengan musik jazz. Ia belajar piano secara otodidak dan pada usia 6 tahun sudah bisa memainkan bagian melodi lagu jazz terkenal karya Theolonious Monk yang berjudul “Well You Needn’t“. Pada usia 8 tahun, ia bermain piano di hadapan Herbie Hancock yang ketika itu berkunjung ke Jakarta. Pada tahun 2014, Joey bersama keluarganya hijrah ke New York setelah sebelumnya tampil di malam gala Jazz at Lincoln Center atas undangan Wynton Marsalis. Lihat penampilannya di acara Grammy Awards 2016 di sini. Baca kisah tentang Joey selengkapnya di sini.

HG, 18-02-2016

Haryo Sumowidagdo dan Fisika Partikel

haryosumowidagdo

Suharyo “Haryo” Sumowidagdo, lahir di Bali pada tahun 1976, adalah fisikawan yang menekuni fisika partikel. Setelah lulus dari Universitas Indonesia, ia melanjutkan studinya ke Florida State University dan mendapatkan gelar doktornya dari sana. Ia sempat bekerja di CERN (Conseil Européene pour la Recherche Nucléaire) atau European Organization for Nuclear Research, yang memiliki laboratorium percepatan partikel terbesar di dunia di sebelah barat Jenewa, bersama dengan ribuan ilmuwan mancanegara, terutama komunitas fisika partikel. Ia kini telah kembali ke tanah air dan berafiliasi dengan LIPI.

HG, 24-12-2015

Sains45: Agenda Menyongsong Satu Abad Indonesia

SAINS45cover

Pada bulan Agustus tahun 2015, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menerbitkan sebuah buku penting berjudul “Sains45: Agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia Menyongsong Satu Abad Indonesia“. Buku ini ditulis oleh tim yang terdiri dari 17 ilmuwan Indonesia, berisi 8 bab, dengan total 45 tulisan. Hmmm, 17-8-45 ya.. Bila anda penasaran dengan isinya, buku Sains45 dapat diunduh dari situs AIPI.

H.G., 09-10-2015

Nadiem Makarim dan Go-Jek

Nadiem_Makarim

Nadiem Makarim, pemuda yang baru memasuki usia kepala tiga itu, adalah anak dari seorang ayah asal Pekalongan dan ibu asal Pasuruan. Pada tahun 2015 ini, ia meluncurkan PT Go-Jek Indonesia, sebuah perusahaan ojek modern berbasis aplikasi smartphone. Bila anda telusuri rekam jejak pendidikannya, anda tidak akan terkejut. Setelah lulus SMA dari Singapura, ia melanjutkan studi ke Brown University di AS. Gelar MBA-nya kemudian diperoleh dari Harvard Business School. Sempat bekerja di McKinsey & Co Jakarta, Nadiem kemudian memutuskan untuk menekuni dunia ojek, dan lahirlah Go-Jek yang fenomenal itu. Simak gagasannya di sini.

HG, 16-08-2015