Month: April 2013

Aku Berkarya, Maka Aku Ada*

Oleh: Rasyid Sayyari

Cogito Ergo Sum”, suatu ungkapan populer yang diucapkan oleh filsuf Rene Descartes. Arti dari ungkapan tersebut adalah, “Aku Berpikir, Maka Aku Ada”. Descartes sebagai filosof pendukung ‘aliran’ rasionalisme dalam filsafat, berpendapat bahwa manusia yang berpikir adalah manusia yang diakui keberadannya. Manusia yang eksis.

Sebuah pertanyaan di hati saya muncul ketika mengingat ungkapan tersebut, apakah kita cukup hanya berpikir, untuk dianggap sebagai suatu keberadaan?

Diskusi antara hati dan otak menjawab, tidak cukup. Berpikir adalah aktivitas mental yang dilakukan manusia secara internal. Artinya berpikir hanya bisa dilakukan dan dirasakan sendiri. Dalam berpikir kita tidak melibatkan orang lain. Kita hanya memanfaatkan akal pikiran, panca indera dan segala karunia yang diberikan Tuhan.

Jika berpikir saja tidak cukup, apa yang harus kita lakukan agar ‘menjadi ada’ ? Jawabannya adalah BERKARYA. Karya adalah hasil olah rasa, olah hati dan olah pikiran. Ketika berpikir menjadi aktivitas abstrak yang hanya bisa dirasakan sendiri, berkarya adalah aktivitas menghasilkan sesuatu yang bisa dirasakan, bisa diapresiasi oleh orang lain.

Pertanyaan selanjutnya, karya seperti apa yang harus kita buat agar kita ‘menjadi ada’? Ini adalah pertanyaan yang cukup pelik, mengingat berkarya adalah sesuatu yang terus menerus kita lakukan, dari bangun tidur hingga tidur lagi. Berkarya tidak sesedarhana membuat tulisan atau mencipakan lagu, berkarya memiliki makna yang lebih dalam dari pada itu. Hidup kita sejatinya adalah karya. Semua yang kita lakukan selama hidup adalah ‘karya’.

Manusia yang baik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Begitulah sabda Nabi Muhammad saw.  Sabda ini bisa dijadikan pijakan dalam berkarya. Pijakan yang cukup tepat dalam mengarahkan kita, agar kita tidak salah berkarya. Artinya, kita bisa dan pasti bisa berkarya, dan menjadi manfaat buat orang lain. Bukan hanya bagi diri sendiri.

Berkarya, bisa dibedakan menjadi berkarya secara umum dan khusus, berkarya secara umum adalah keseluruhan tindakan dan perkataan selama hidup kita, sedangkan berkarya secara khusus adalah membuat suatu ‘produk’ dari olah pikir dan olah rasa.

Saya akan mengambil  satu contoh dari berkarya, yaitu menulis. Dengan menulis sebuah tulisan, kita telah berkarya. Walaupun tulisan kita hanya satu buah, ini bukanlah sebuah aib. Satu tulisan lebih baik dibandingkan tidak ada sama sekali.

Dengan arahan sabda tersebut, kita bisa menuliskan sesuatu yang bermanfaat. Yang manfaatnya bukan hanya bagi diri kita, tetapi juga bagi orang lain. Manfaat yang sebenarnya juga akan kembali kepada diri kita. Ini mirip seperti bumerang yang kita lemparkan ke udara, suatu saat aka kembali ke diri kita.

Apakah bumerang itu akan kembali secara baik atau buruk, tergantung dari karya yang sudah kita buat. Jika kita menulis sesuatu yang bermanfaat, akan ada doa, akan ada simpati, akan ada ucapan terima kasih dari orang lain yang membaca tulisan kita. Bukan berarti kita haus terima kasih, tetapi terima kasih tulus akan kita terima jika kita menulis sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Jika kita melakukan sesuatu dengan tulus.

Sejarah telah membuktikan, orang-orang besar dan berpengaruh dalam sejarah adalah mereka yang berkarya. Einstein telah berkarya dengan teori relativitasnya, Newton telah berkarya dalam teori gravitasinya, Tsai Lun telah berkarya dengan penemuan kertasnya.

Mereka yang berkarya selama hidupnya akan dikenang oleh manusia sepeninggal hidupnya. Mereka yang berkarya untuk kemaslahatan orang banyak akan dikenang sebagai orang yang bermanfaat selama hidupnya, begitu juga sebaliknya.

Aku Berkarya, Maka Aku Ada.

*Tulisan ini diunggah di Kompasiana, 04-08-2012.

Advertisements

Cita-Cita dan “Role Model”

Sering berinteraksi dengan anak-anak usia sekitar 10-15 tahun? Coba tanya mereka, apa cita-citanya. Dengan cepat mereka mungkin akan menjawab: dokter, insinyur, artis, atau Presiden. Kadang-kadang ada juga yang bercita-cita menjadi guru atau profesor. 😉

Rasanya melegakan bila anak-anak mempunyai cita-cita. Tapi, bila mereka bercita-cita menjadi dokter, misalnya, dokter sehebat apakah sih yang mereka bayangkan? Insinyur apa dan sehebat apa? Bahkan menjadi Presiden pun, sosok Presiden mana yang mereka bayangkan — karena kita tahu tidak semua Presiden bagus.

Singkat kata, kalau mereka hanya menyebutkan jenis pekerjaannya, tanpa ada kejelasan sehebat apa, mereka kemungkinan akan mendapat pekerjaan tersebut, tapi pada dasarnya mereka akan menjadi seperti orang kebanyakan.

Mempunyai cita-cita itu bagus, tapi coba tanya mereka lebih jauh: siapa role model mereka? Role model adalah orang hebat yang mereka idolakan, yang menginspirasi mereka. Bila mereka ingin menjadi insinyur, misalnya, siapakah idolanya? Mungkin B.J. Habibie? Apa karya keinsinyurannya yang istimewa — anak harus punya alasan mengapa ia mengidolakan beliau. Dengan begitu, anak tahu apa konsekuensinya: ia harus belajar sekeras apa untuk mewujudkan cita-citanya menjadi insinyur seperti B.J. Habibie.

Nah, bila anda berjumpa dengan anak-anak, mungkin anak anda sendiri, coba tanya: siapa role model-nya? Jangan-jangan ia tidak punya role model. Bila demikian adanya, mungkin tugas kita sebagai orang dewasa untuk membuka wawasannya tentang orang-orang yang telah “membuat dunia ini berputar” dan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang tersebut.

Mulai sekarang, tampaknya kita sebagai orang dewasa juga harus mulai mikir-mikir, siapa orang hebat di sekitar kita — dalam bidang sains, teknologi, kedokteran, ilmu sosial, seni, olahraga, dlsb. Make sure that they are really great, not just an average. Negeri ini butuh banyak orang-orang hebat, bila mungkin pada skala dunia, yang dapat menjadi role model bagi anak-anak!

HG, 13-04-2013

Tulisan yang sama diunggah di http://hgunawan82.wordpress.com pada 09-04-2013