TJIO Joe Hin (1919-2001): Penemu Jumlah Kromosom

TJIO Joe Hin lahir di Jawa (pada jaman penjajahan Belanda), dan lulus dari Sekolah Agronomi Bogor pada tahun 1940. Ia kemudian dikenal sebagai ahli cytogenetik yang pertama kali menghitung dengan tepat jumlah kromosom manusia. Peristiwa penting itu terjadi pada akhir tahun 1955, ketika Tjio bekerja sebagai peneliti tamu di Institute of Genetics, University of Lund, Swedia. (Thanks to Galih Prasetya for telling me about him!) Kisah tentang TJIO Joe Hin selengkapnya dapat dibaca di:

http://www.nytimes.com/2001/12/07/us/joe-hin-tjio-82-research-biologist-counted-chromosomes.html

Berikut adalah cuplikan dari artikel tersebut (maaf, dalam bahasa Inggris):

Joe Hin Tjio, 82; Research Biologist Counted Chromosomes

By WOLFGANG SAXON

Dr. Joe Hin Tjio, the research biologist who produced the first correct count of the chromosomes in human cells, died Nov. 27 in Gaithersburg, Md. He was 82.

Dr. Tjio (pronounced CHEE-oh) accomplished that feat in 1956 as a visiting scientist at the University of Lund, Sweden. His surprise discovery helped pave the way to much work in human biology pertaining to chromosomal abnormalities.

He later joined the staff of the National Institutes of Health, and President John F. Kennedy honored him with an outstanding achievement award in 1962.

The nature and functions of chromosomes, the agents of heredity, had been known when Dr. Tjio correctly counted the number of chromosomes. But observing human chromosomes under the microscope had always been more difficult than observing those of other species, and scientists had long assumed that chromosomes normally numbered 48 in each body cell.

Dr. Tjio used an advanced technique to separate chromosomes of embryonic lung tissue on glass slides and, to his own amazement, saw that the actual figure was 46. ”The number was just an incidental finding,” he recalled many years later.

Catatan: Artikel serupa dapat pula ditemukan di situs The Guardian.

HG, 03-05-2013

Advertisements

3 comments

  1. Menemukan nama Joe Hin Tjio pun secara tidak sengaja, Pak Hendra. Kebetulan saya sedang mengerjakan aktivitas terkait sejarah aset & moneter global (ekonomi), terkait bisnis pribadi. Karena latar belakang formal di Sains- Teknologi Farmasi- Desain Obat, sempat belajar sedikit soal genetika, maka saya mencari hubungan antara perdagangan global era sebelum masehi, genealogi penguasa aset ( kerajaan), dan pola persebaran budaya lewat jalur perdagangan, semacam mencari irisan antara ekonomi, antropologi, genetika, diskrit ( mat.), & arkeologi, soalnya ya peradaban manusia memang pada kenyataannya kan multivariabel, multidisiplin.

    Saya sengaja membaca bukunya Matt Ridley tentang Genom, beliau periset yang berbahasa pop, jadi gayanya dekatlah dengan Malcolm Gladwell & Nicholas Taleb, dan bab pertamanya langsung membahas fundamental pemetaan genom, yaitu jumlah pasangan kromosom manusia, lebih kaget lagi, karena secara terang Ridley bilang bahwa penemunya orang Indonesia, walau ternyata sebenarnya Hindia Belanda, waktu itu ya.

    Saya sebenarnya masih mapping juga, apakah di Indonesia, budaya diskusi lintas disiplin, lintas praktisi, masih ada kemungkinan dimulai di lingkungan kampus ? Semacam Liberal Arts Pak Hendra, karena jika diskusi – kolaborasi lintas disiplin itu baru dikenali saat keluar kampus, saya pikir kok sudah terlambat ya ? Karena usia awal mahasiswa, 17 tahun, itu usia potensial untuk mulai memandang bahwa dunia nyata tidaklah sederhana, monokrom, linier, atau singularitas tafsir kebenaran.

    Terima kasih Pak, ada numpang nama saya 😀

    1. Budaya diskusi lintas disiplin! Itu yang perlu dibangun. Di antara dosen pun jarang, karena dosen pada umumnya sibuk (entah sibuk apa). Namun, sejak lama, saya sering “ngobrol” dengan teman2 dosen bidang lain. Bahkan baru-baru ini pun sejumlah dosen ITB membentuk Komunitas Dosen (KD)-ITB. Sebulan sekali, setidaknya, ada acara sharing – berbagi pengalaman dan pandangan. Selain itu di Majelis Guru Besar (MGB)-ITB sering ada diskusi terbuka. Sayangnya keberadaan organ MGB ke depan tidak jelas, sehubungan dengan adanya perubahan struktur organisasi di ITB.

      1. Dulu pas mahasiswa saya suka baca proceeding makalah MGB ITB Pak, wawasannya luas sekali, dan pilihan bahasanya cenderung “ramah” untuk bisa diakses oleh orang awam, di luar disiplin spesialis yang diangkat.

        Gagasan- gagasan mereka tentang manusia Indonesia, dan peradaban Indonesia sangat inspiratif, dan multidimensi, kita jadi belajar untuk lebih menghargai kawan dari jurusan yang berbeda, karena paham, bahwa kerja spesialis kita baru akan bisa bermakna, kalau digabung dengan disiplin lain.

        Keberadaan Himpunan Mahasiswa Jurusan/ Fakultas, sebenarnya kontraproduktif dengan gagasan untuk kolaborasi multidisiplin Pak. Saya sangat merasakan sikap chauvinistik kelompok, yang tiap tahun dikembangkan terus menerus, dan sebenarnya itu menjauhkan mahasiswa dari realitas implementasi disiplin, yang mau tidak mau harus bisa berkolaborasi dengan spesialisasi disiplin lain.

        Saya tidak membandingkan kualitas ekosistem ITB dengan PTN unggulan lain Pak, tetapi dengan Akademi Militer TNI. Usia sama, tahun masuknya juga bersamaan, tapi kalau dilihat setelah lulusnya, alumni militer akan langsung bertemu dengan masalah riil, diminta memegang pasukan, dan diputar tugas ke lapangan, mereka dipaksa bertemu masalah nyata, pendewasaan sesungguhnya dimulai disitu.

        Saya sebelum memilih ITB, sebenarnya juga berencana masuk Akmil Darat, tapi paman menyarankan ke ITB, karena menurut beliau, satu- satunya ekosistem sipil yang mampu berdiri sejajar dengan militer, dan selalu menjadi tulang punggung pergerakan sipil di Indonesia, adalah alumni ITB, akhirnya ya saya memilih ITB, untuk dididik dengan ekosistem yang paman saya maksud.

        Menurut saya, aset yang dimiliki ITB adalah ekosistem yang dibangun di dalamnya. Ada profesor dan guru- guru besar hebat yang sangat inspiratif, dan harus dicuri semua ilmunya oleh mahasiswa Indonesia, bukan sekedar buku teks, yang sejujurnya bisa dijumpai di semua PTN, selain ITB. Tapi kalau ekosistem ? Semua PTN pasti punya ciri khas, dan kekuatan ITB ya di situ, ekosistem organis yang dibangun oleh manusia- manusia di dalamnya.

        Membandingkan kualitas lulusan ITB sebaiknya dengan lulusan Akademi Militer Pak, karena isu ke depan di Indonesia yang harus dibangun adalah : supremasi sipil. Supremasi sipil bukan di akses ke senjata, tapi akses ke pengetahuan dan teknologi, untuk bisa didistribusikan kepada warga negara lain, sesama unsur sipil tentunya.

        Begitu Pak Hendra 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s