Month: September 2013

Sangkot Marzuki dan Lembaga Eijkman

Nama Sangkot Marzuki barangkali melekat dengan Lembaga Eijkman. Bahkan, sebaliknya, bila kita mendengar nama Lembaga Eijkman dewasa ini, yang melintas di benak kita mungkin nama Sangkot Marzuki.

Sangkot Marzuki lahir di Medan, Sumatera Utara, 2 Maret 1944. Beliau menjadi Direktur Lembaga Eijkman sejak 1992 hingga sekarang. Ia menempuh pendidikan S1 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (lulus 1968), S2 di Universitas Mahidol, Thailand (lulus 1971) dan S3 di Universitas Monash, Australia (lulus 1976).

Lembaga Eijkman, atau tepatnya Lembaga Biologi Molekul Eijkman, merupakan lembaga riset negara dengan misi mengembangkan ilmu pengetahuan dasar di bidang biologi molekuler serta menerapkan pengetahuan tersebut untuk pemahaman, pengenalan, pencegahan, dan pengobatan penyakit pada manusia.

Nama lembaga penelitian ini diambil dari nama direktur pertamanya, Christiaan Eijkman, yang meraih penghargaan Nobel untuk penelitiannya mengenai pengaruh vitamin terhadap beberapa penyakit manusia, terutama beri-beri.

Setelah ditutup pada tahun 1965, Lembaga Eijkman direvitalisasi oleh Menristek RI saat itu, B.J. Habibie, pada tahun 1992. Prof. Sangkot Marzuki, yang ketika itu berada di Australia, dipanggil pulang untuk memimpin lembaga ini. Jabatan tersebut masih ia emban hingga sekarang, dibantu oleh seorang Deputi Direktur, yaitu Prof. dr. Herawati Sudoyo, Ph.D. Hingga kini, Lembaga Eijkman bertanggungjawab langsung kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi RI.

Sosok Sangkot Marzuki memang bukan sosok sembarangan. Sebagai peneliti dalam bidang biokimia, genetika dan biologi molekuler, sebanyak 111 publikasinya tercatat di Scopus (per September 2013). Papernya pun masih terbit pada tahun 2013 ini, sekalipun bukan sebagai penulis pertama. Beberapa paper yang dipublikasikannya sebagai penulis pertama antara lain berjudul “Update in molecular genetics: mitochondrial energy transduction disorders,” The Southeast Asian Journal of Tropical Medicine and Public Health 26 Suppl. 1 (1995), 155-161, dan “Developmental genetics of deleted mtDNA in mitochondrial oculomyopathy,” Journal of Neurological Sciences 145 (2) (1997), 155-162.

Saat ini, Sangkot Marzuki masih tercatat pula sebagai Honorary Professor di Sydney Medical School, The University of Sydney.

Sumber:

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Sangkot_Marzuki
  2. http://foto.ureport.news.viva.co.id
  3. http://www.thejakartapost.com/news/2010/02/04/sangkot-marzuki-the-brilliant-professor-behind-eijkman.html

HG, 09-09-2013