Month: February 2014

Kreasi yang Tak Lazim**

Seruan untuk Generasi Muda Indonesia

Oleh: Zulkaida Akbar*

Black Mountain College, didirikan pada tahun 1933 di North Carolina USA menjadi satu titik penting dalam sejarah pendidikan di Amerika. Black Mountain College (BMC) didirikan dengan semangat perlawanan terhadap model pendidikan tradisional Amerika saat itu. BMC mendidik siswanya dengan semangat kebebasan, lintas disiplin, seni, tidak memisahkan antara bekerja dan bermain, serta hubungan egaliter antara guru dan siswa dimana guru dan siswa sama-sama bekerja dalam mengurus kampus (bangunan, administrasi, hingga makan siang).

Meski kini Black Mountain College tak lagi ada, namun jejaknya tertoreh cukup dalam pada sejarah perkembangan seni di Amerika. Puluhan seniman, penulis, pemikir dan penyair ternama dihasilkan oleh College yang bahkan tak pernah terakreditasi serta dijalankan dengan anggaran minim ini.

Black Mountain College adalah salah satu hasil “kreasi yang tak lazim”. Sepanjang sejarah peradaban manusia, berderet kreasi yang tak lazim dengan berbagai rupa: sistem, teknologi, kepemimpinan politik, artefak, hingga pemikiran. Umumnya, kreasi tak lazim ini lahir dari kejenuhan atau kebuntuan. Namun, ada pula yang dihasilkan oleh seorang jenius yang mampu meneropong masa depan. Beberapa dari kreasi yang tak lazim ini menjadi kontroversi sesaat dan lantas lenyap. Beberapa lainnya, mampu menjadi solusi atas persoalan di masyarakat, dan segelintir di antaranya bahkan mampu menghela arah peradaban.

Lantas, ada satu pertanyaan yang mengemuka di benak saya : ada berapa banyak kreasi yang tak lazim di Negeri Indonesia kita tercinta? Kalau rentang waktunya adalah satu abad, kita masih menemukan banyak hal seperti Madilog, Indonesia Menggugat, Taman Siswa, Syarekat Islam, Tetralogi Pulau Buru, Pancasila, gaya kepemimpinan Sultan HB IX, dan sebagainya. Kalau saya perpendek rentang waktunya menjadi 20 tahun terakhir, yang muncul otomatis di benak saya hanyalah N-250 dan visi negara kepulauannya Habibie. Sementara di luar sana, bermunculan banyak kreasi tak lazim mulai dari facebook hingga mesin puluhan trilyun bernama Large Hadron Collider (LHC).

Kita tahu bahwa negara kita dirundung persoalan pelik, dan persoalan luar biasa tak bisa diatasi dengan cara biasa. Singkat kata, negara kita memerlukan banyak sekali kreasi yang tak lazim. Lantas, dari mana orang-orang yang mampu menciptakan kreasi yang tak lazim (kita sebut saja sang pendobrak) berasal?

Steve Jobs, memberi judul “Connecting The Dots” pada pidatonya di depan wisudawan Stanford. Steve Jobs bercerita tentang riwayat hidupnya sambil menekankan beberapa titik dalam perjalanan hidupnya yang mempengaruhi kiprahnya dalam perusahaan dan industri komputer. Contohnya adalah satu kelas yang mengajarkan tipografi yang pernah diambil Steve Jobs yang akhirnya mempengaruhi bentuk PC seperti yang kita kenal saat ini.

Mahasiswa Fisika tahu betul bahwa saat belajar relativitas khusus, hampir semua buku mengawalinya dengan konsep tentang sinkronisasi waktu, dilanjutkan dengan banyak ilustrasi yang mengambil latar gerbong kereta. Ternyata, hal ini berasal dari pengalaman hidup Einstein yang sering melewati stasiun dengan Jam besar yang harus selalu disetel ulang agar selalu presisi. Singkat cerita, kita tidak pernah tahu di penggal kisah hidup sebelah mana pada diri seseorang yang menjadi “titik ungkit” bagi kiprahnya di masa depan sebagai sang pendobrak.

Terkadang, ciri-ciri sang pendobrak bisa “diterawang” sejak dini. Saya teringat, meski lamat-lamat akan perkataan seorang fisikawan yang mengatakan bahwa seseorang yang belum memiliki “masterpiece” sebelum usia 30 tidak akan pernah memiliki masterpiece seumur hidupnya. Atau dengan kata lain, seseorang yang menjalani 30 tahun pertama hidupnya dengan lurus-lurus saja, selamanya akan menjadi orang-orang biasa saja. Benarkah?

Memang ada beberapa kisah yang menguatkan pernyataan fisikawan di atas. Jauh sebelum menjadi orang terkaya, ketika kuliah Bill Gates pernah menulis algoritma “pancake sorting” yang menjadi algoritma tercepat, membentuk perusahaan bersama Paul Allen saat 17 tahun serta membantu menulis program penjadwalan kelas dimana Bill Gates selalu menempatkan dirinya di kelas yang dipenuhi gadis-gadis menarik. Pencapaian-pencapaian kecil inilah yang turut membentuk karya besar Bill Gates : Microsoft.

Negara Indonesia membutuhkan banyak sekali sang pendobrak dari berbagai bidang, kendati demikian sampai detik ini saya belum bisa merumuskan dengan lugas seperti apakah garis perjalanan hidup yang mampu melahirkan sang pendobrak?

Karenanya, saya ingin mengakhiri tulisan singkat ini dengan satu nasihat untuk generasi muda : Bertindaklah! karena kita tidak pernah tahu bagian mana dari kisah hidup kita yang akan mengantarkan kita menjadi sang pendobrak. Bergumullah dengan paper sejak dini jika ingin menjadi ilmuwan pendobrak dikemudian hari, jangan takut berpetualang dari satu simposium ke simposium lain! Berdaganglah sejak awal jika ingin menjadi pebisnis hebat yang akan menggerakan perekonomian bangsa! Menyelamlah ke dalam pertarungan-pertarungan politik jika ingin menjadi politisi lihai dan handal (asal lakukan dengan tanpa mengesampingkan moralitas). Dan berbuatlah untuk lingkungan sekitar, dalam bentuk apapun jika kelak ingin menjadi Negarawan Pendobrak! Jangan tunggu hingga lulus, atau mendapat pekerjaan mapan karena bisa jadi tanpa sadar waktu yang menjadi “titik ungkit” bagi calon sang pendobrak telah terlewati sia-sia.

*Zulkaida Akbar adalah Alumnus Program S1 Fisika ITB Angkatan 2003. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa program Doktoral bidang Fisika di Florida State University.

**Tulisan ini diterbitkan di VicaraVeritas.com pada 28-01-2014