Month: October 2014

Sastra dan Matematika

Oleh: A. Elwiq PR*

Kabar dari situs http://www.simonsfoundation.org merilis perkembangan mutahir dunia matematika. Maryam Mirzakhani (37 tahun), wanita asal Iran, meraih penghargaan bergengsi the Fields Medal. Penghargaan ini disebut-sebut sebagai Nobel-nya para matematikawan, yang awalnya diadakan oleh matematikawan asal Kanada, John Charles Fields, yang merancang medali dan mendanai penyelenggaraannya. Pada 2014 Mirzakhani terpilih sebagai wanita pertama penerima penghargaan yang sudah diberikan tiap empat tahun sekali sejak 1936. Selain penampilan sederhananya yang mengundang simpati, dalam wawancara dengan media ia justru berbicara tentang cita-citanya ketika kecil menjadi seorang penulis, bukan ilmuwan sebagaimana ia sekarang.

Profesor Mirzakhani dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, berbicara teori yang ia temukan dan rumuskan di jagat matematika dengan mengimajinasikan angka-angka pada cabang ilmu topologi, geometri, dan sistem-sistem dinamika, serupa cerita. Pengakuannya, “penelitian dalam matematika itu seperti menulis sebuah novel. Ada karakter yang berlainan satu sama lain, anda akan mengenalnya lebih baik kemudian. Segala sesuatunya saling mempengaruhi, selanjutnya anda kembali melihat karakter yang anda kenali di awal. Ada yang benar-benar berbeda dari kesan pertama yang kita tangkap.”

Ia lahir di Teheran, Iran. Sejak mula ia lebih tertarik membaca dan menulis fiksi ketimbang mengerjakan tugas matematika. Dalam pikirannya, ia hanya ingin membaca semua buku yang ia jumpai. Ia juga menonton televisi yang menayangkan film dokumenter perempuan terkemuka semisal Marie Curie dan Helen Keller. Ia terkesan dengan novel biografi Vincent van Gogh karya Irving Stone yang berjudul Lust For Life.

Apa istimewanya novel tersebut hingga Mirzakhani menyebutnya secara khusus? Banyak bagian dari novel tersebut memang memberikan ruang-ruang bernafas bagi para pemburu hakikat. Salah satunya percakapan Vincent dengan ayahnya sebagai berikut:

Suatu kali, ayahnya, yang mengira dia membaca untuk hiburan, berkata, “Vincent, kau selalu berbicara tentang betapa kerasnya kau harus bekerja. Lalu mengapa kau membuang-buang waktumu dengan semua buku Perancis yang konyol itu?”

Vincent meletakkan jarinya untuk menandai halaman novel yang sedang dibacanya, Le Pere Goriot karya Balzac, dan mendongak.

“Aku tidak bisa menggambar figur,” katanya, “tanpa mengetahui semua tentang tulang-tulang, otot-otot, dan urat-urat yang ada di dalamnya. Dan aku tak bisa menggambar kepala tanpa tahu apa yang terjadi di dalam otak dan jiwa orang itu. Untuk melukiskan kehidupan orang harus memahami tidak hanya anatomi, tetapi juga apa yang dirasakan dan dipikirkannya tentang dunia TEMPAT MEREKA TINGGAL. Seorang pelukis yang hanya paham akan ketrampilan tangannya sendiri dan bukan yang lain nantinya akan menjadi pelukis yang SANGAT DANGKAL.” (hal 148-149, Lust For Life, Irving Stone, 1934).

Dalam percakapan itu, kita tidak hanya mendapati kehidupan pelukis dalam arti sempit, tapi bagaimana proses seorang manusia memahami hidup dan ia padukan dengan pengetahuan, itulah yang tampaknya berpengaruh kuat pada kehidupan Mirzakhani kemudian hari.

“Dia punya lembaran-lembaran kertas besar dan digelar di lantai. Dia betah berjam-jam menggambar di atasnya. Bagi saya seperti membuat coretan-coretan yang terus diulang-ulang,” ujar Jan Vondrak, suaminya.

“Coretan-coretan itu membuat saya fokus,” sahut Mirzakhani.

Ketika memikirkan permasalahan matematika yang rumit ia tak mungkin menulis semuanya secara rinci, dengan menggambarnya akan sangat membantu entah bagaimana caranya tetap terhubung.

Rupanya, logika dan dialektika yang disampaikan Tan Malaka, berseru kuat dalam cara berpikir Mirzakhani. Tan Malaka menyebutnya sebagai jembatan keledai. Bahwa menurut Tan Malaka, bahkan lulusan SMP pun bisa belajar sendiri untuk sampai ke langit matematika selama cukup sabar dan mempunyai tempo atau irama. Bahwa ada warisan yang patut digarisbawahi dari pemikiran Tan Malaka, yakni untuk memahami logika dan dialektika, kita lebih dulu melatih dan mendidik diri sendiri dalam kerangka pikir geometris.

Ya, sejauh ini dunia sastra pun digelar oleh penulis yang mampu melahirkan karya adi di mana ia bisa memadukan dialog yang hidup antar tokoh, sekaligus bagaimana alur cerita dibuatkan rumusan logis yang hanya penulisnya sendiri yang mampu menguraikan. Kemudian pembaca dibuat menebak-nebak bagaimana bisa sampai di akhir cerita. Begitu pun yang Vincent van Gogh lakukan seumur hidup. Ia berkutat dengan ribuan eksperimen yang baginya bukan sedang menghasilkan karya tapi terus-menerus memperkuat ekspresinya dalam karya.

Artinya, bila diterapkan hari-hari ini sebagaimana yang digerakkan bapak dan ibu guru dengan Kurikulum 2013, jelas memberikan ruang luas bagi anak didik maupun pendidik untuk bereksperimen menemukan coretan-coretan yang bukan hanya indah dipandang tapi membongkar pola pikir, tak lagi mengotak-ngotakkan cabang-cabang ilmu secara kaku. Kuncinya satu, banyak-banyak membaca agar imajinasi peserta didik dan pendidik terus tumbuh, kuat, dan kokoh. Itukah yang terjadi di sekolah-sekolah belakangan ini?

*A. Elwiq PR adalah seorang penulis cerpen yang tinggal di Malang, Jawa Timur.

Bandung, 15-10-2014

Membangun Perekonomian Berbasis Iptek*

Di tengah hiruk-pikuk Pilpres 2014 ketika itu, ada berita menggembirakan tentang perekonomian Indonesia yang berhasil masuk sepuluh besar dunia (Kompas, 3 Mei 2014). Saat itu, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan menyatakan bahwa Indonesia kini sejajar dengan negara-negara lain yang tergolong maju (Kompas.com, 5 Mei 2014). Negara-negara yang dimaksud adalah Amerika Serikat, Tiongkok, India, Jepang, Jerman, Rusia, Brasil, Perancis, dan Inggris.

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat ini memang mencapai angka yang fantastis, yaitu sekitar Rp 10.000 triliun. Namun, bila kita bagi dengan jumlah penduduk Indonesia, maka kita dapatkan PDB per kapita sekitar Rp 45 juta. Dengan angka ini, Indonesia berada di urutan ke-125, jauh berada di bawah Malaysia, Suriname, bahkan Namibia.

Ada dua hal yang penting untuk dicatat terkait dengan isu ini. Pertama, tanah air Indonesia memang kaya dengan sumberdaya alam, dan dari situlah PDB yang besar kita raup. Namun, jumlah penduduk kita juga besar, sehingga PDB yang besar tadi belum memberikan kesejahteraan bagi masyarakat secara umum. Kedua, untuk mendongkrak PDB per kapita, kita tidak dapat seterusnya mengandalkan kekayaan sumberdaya alam Indonesia. Suatu terobosan perlu digagas untuk perekonomian Indonesia ke depan.

Bila selama ini kita terpaku pada peran Pemerintah dan para pelaku usaha dalam meningkatkan perekonomian Indonesia, maka salah satu terobosan yang perlu dilakukan adalah memperkuat elemen ketiga, yaitu perguruan tinggi (PT) dan lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan (litbang).

Negara-negara maju seperti Inggris dan Jepang membangun perekonomiannya tidak di atas sumberdaya alam tetapi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang mereka kembangkan. Di sinilah PT dan lembaga litbang memainkan peran pentingnya. Dalam hal ini pula kita menyadari mengapa PDB per kapita masih rendah, yaitu karena perekonomian kita belum diwarnai dengan kemajuan iptek yang kita kembangkan sendiri.

Pilpres 2014 telah berlalu. Apakah kita kemudian dapat berharap pada Pemerintah baru, yang akan dipimpin oleh duo Jokowi-JK kelak?

*Dicuplik dari artikel Membangun Perekonomian Berbasis Iptek yang dimuat di Kompas, 3 September 2014.

HG, 02-10-2014