Author: Hendra Gunawan

I'm a professor of mathematics at the Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bandung Institute of Technology, Bandung, Indonesia.

Phillia Wibowo dan Pemimpin Muda Indonesia

phillia wibowo

Siapa yang menduga bahwa Phillia Wibowo, Presiden Direktur McKinsey Indonesia, adalah lulusan program studi S1 Matematika ITB. Sebagaimana dikutip oleh Majalah SWA, “Saya enjoy menjadi seorang konsultan. Mungkin karena saya senang menolong orang lain dalam menentukan keputusan besar. Saya enjoy dengan problem solving-nya. Mungkin ini efek belajar matematika. Problem selalu kompleks dan saya enjoy, juga kerja sama dengan orang,” katanya. Phillia juga dikenal sebagai penggerak “Unleashing Indonesia”, yang mendambakan Indonesia maju dalam perekonomiannya. Selain itu, ia adalah salah seorang pendiri Young Leaders for Indonesia, sebuah program dari McKinsey yang menyasar para mahasiswa yang berprestasi dan berpotensi menjadi pemimpin. Baca selengkapnya mengenai Phillia Wibowo di sini.

HG, 27-07-2017

Advertisements

50 Perguruan Tinggi Indonesia Paling Produktif dalam Riset

Berdasarkan data Dikti per 21 Februari 2017, terdapat 4.490 perguruan tinggi di Indonesia, yang terdiri atas 1.104 akademi, 251 politeknik, 2.434 sekolah tinggi, 143 institut, dan 558 universitas. Para perguruan tinggi ini tentunya menghasilkan banyak lulusan setiap tahunnya. Lalu bagaimana kinerja mereka dalam pengembangan ilmu pengetahuan alias riset? Data di bawah ini menampilkan 50 perguruan tinggi Indonesia yang paling produktif dalam riset menurut database Scopus, dan Anda bisa mengira-ngira sendiri sisanya seperti apa. Sila tengok:

50-perguruan-tinggi-indonesia-di-scopus-21-februari-2017

HG, 21-02-2017

Teruna Siahaan dan Kimia Farmasi

teruna-siahaan

Dr. Teruna J. Siahaan adalah Aya & Takeru Higuchi Distinguished Professor di Department of Pharmaceutical Chemistry, The University of Kansas (KU), Kansas, AS. Professor Siahaan mendapat penghargaan sebagai Fellow of the American Association of Pharmaceutical Scientists (AAPS). Beliau menjabat sebagai Department Associate Chair, Program Director dari NIH Biotechnology Training Program, dan Director of Global Health Education & Research Center di KU.

Ia lahir di Medan dengan pendidikan dari SD Methodist, SMP Katholik St. Thomas, dan SMA Katholik di Medan. Setelah menyelesaikan kuliah di Jurusan Kimia, FMIPA-UI, pada tahun 1982, Prof. Siahaan melanjutkan studi ke Amerika Serikat dan mendapatkan gelar Ph.D. pada tahun 1986 di bidang Kimia Organik dari the Department of Chemistry, University of Arizona, Tucson, Arizona, AS. Beliau melanjutkan Postdoctoral Training di Department of Chemistry, University of California, Santa Barbara, California, AS. Setelah bekerja dua tahun di La Jolla Cancer Research Foundation (Burnham Institute), California, dan dua tahun di Sterling Drug Inc., Rensselaer, New York, Prof. Siahaan menjabat sebagai Assistant Professor di KU pada tahun 1991. Secara bertahap Dr. Siahaan dipromosikan ke jenjang Associate, Full, dan Distinguished Professor di KU.

Prof. Siahaan mempublikasikan sekitar 167 artikel, 19 buku chapter, 12 catatan, 2 buku, dan 12 paten. Ia juga telah membimbing beberapa dosen dan staff dari beberapa Universitas dan Instansi di Indonesia (a.l. UI, GAMA, UNAS, UNDIP, Atmajaya, LIPI) sebagai mahasiswa S3 dan Dosen/Peneliti Recharging Program yang melakukan riset di laboratoriumnya di KU. Bila berkunjung ke Asia Tenggara dan Australia, beliau selalu menyempatkan singgah untuk memberi kuliah, short courses, dan seminar serta bertemu dengan mahasiswa dan dosen di universitas-universitas di Indonesia.

Publikasi Professor Siahaan dapat dilihat dengan membuka laman di bawah ini:

ResearchGate: https://www.researchgate.net/profile/Teruna_Siahaan;

Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?user=vsi-IckAAAAJ&hl=id;

KU Pharmacy School: https://pharmacy.ku.edu/teruna-siahaan#link3

H.G., 05-01-2017

Raymond R. Tjandrawinata dan Obat Herbal

raymond

Pada penganugerahan Habibie Award 2016, ada sosok menarik yang menggulirkan kata sciencepreneurship — ia adalah Raymond R. Tjandrawinata, arek Suroboyo, anak dari seorang TNI AL – Lukito Tjandrawinata – Veteran Pejuang Angkatan 1945. Raymond menyebut dirinya sebagai seorang industrial scientists. Rupanya, dugaan sebagian besar orang selama ini bahwa di Indonesia tidak ada industri yang berbasis riset salah. PT Dexa Medica, tempat di mana Raymond bekerja sebagai Direktur Eksekutif, adalah contoh penyangkalnya. Industri yang berkecimpung dalam obat-obatan herbal ini memproduksi obat berbasis riset yang mereka lakukan, yang dipimpin oleh Raymond. Publikasinya tak kalah produktif dari para peneliti di perguruan tinggi. Atas inovasinya dalam pengembangan obat-obatan, pada awal tahun 2015, PT Dexa Medica meraih penghargaan dari Menko bidang Pengembangan Manusia dan Kebudayaan. Raymond sendiri pernah mendapat The Swa Indonesia Future Business Leader Award dan diangkat sebagai ‘Fellow‘ oleh The Royal Society of Chemistry dan The Society of Biology. Pada tanggal 5 Oktober 2016, ia menerima Habibie Award dalam Bidang Ilmu Kedokteran & Bioteknologi.

H.G., 07-10-2016

Susi Susanti dan Bulu Tangkis

susi-susanti

Menyaksikan atlit bulu tangkis kita berlaga di Olimpiade, sebagian dari kita akan teringat Susi Susanti, yang meraih medali emas untuk kategori tunggal wanita di Olimpiade Barcelona 1992. Alan Budikusuma, yang kelak menjadi suaminya, pada waktu itu juga meraih medali emas untuk kategori tunggal pria.

Susi Susanti, putri kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, juga menjuarai All-England pada tahun 1990, 1991, 1993 dan 1994, World Badminton Grand Prix dari tahun 1990 hingga 1994 dan pada tahun 1996, serta IBF World Championships pada tahun 1993. Ia merupakan satu-satunya pebulutangkis tunggal wanita yang memenangi Olimpiade, IBF World Championship, dan All-England sekaligus.

Pada tahun 2004, International Badminton Federation (sekarang Badminton World Federation) memberikan penghargaan Hall Of Fame kepada Susi Susanti. (Pebulutangkis Indonesia yang juga memperoleh penghargaan Hall Of Fame dari IBF adalah Rudy Hartono Kurniawan, Dick Sudirman, Christian Hadinata, dan Liem Swie King.)

H.G., 17-08-2016

Achmad Zaky dan Bukalapak.com

AchmadZaky

Siapa yang tak kenal Achmad Zaky, seorang pemuda asal Sragen, Jawa Tengah, yang baru berusia 30 tahun itu? Ia  adalah alumnus Teknik Informatika ITB, angkatan 2004. seorang pengusaha yang bergerak di bidang internet. Bersama teman kuliahnya, Nugroho Herucahyono, Zaky merintis Bukalapak.com sejak tahun 2011, dengan tujuan memberdayakan para pelaku usaha kecil dan menengah di Indonesia, yaitu dengan memberikan wadah (di dunia maya) kepada mereka untuk berjualan dan menemukan pembeli produk mereka. Bukalapak.com sekarang telah dikenal sebagai salah satu perusahaan e-commerce Indonesia berbasis marketplace C2C.

HG, 14-04-2016

Joey Alexander dan Musik Jazz

Joey-Alexander

Usianya belum juga menginjak 13 tahun, tetapi ia telah tampil di acara Grammy Awards 2016 dan dinominasikan untuk dua kategori, yaitu improvisasi jazz solo terbaik untuk lagunya yang berjudul “Giant Steps” dan album jazz instrumental terbaik untuk album perdananya “My Favourite Things” yang dirilis pada tahun 2015. Joey lahir di Bali pada tanggal 25 Juni 2003 dari pasangan Denny Sila dan Farah Urbach. Sejak kecil, telinganya telah akrab dengan musik jazz. Ia belajar piano secara otodidak dan pada usia 6 tahun sudah bisa memainkan bagian melodi lagu jazz terkenal karya Theolonious Monk yang berjudul “Well You Needn’t“. Pada usia 8 tahun, ia bermain piano di hadapan Herbie Hancock yang ketika itu berkunjung ke Jakarta. Pada tahun 2014, Joey bersama keluarganya hijrah ke New York setelah sebelumnya tampil di malam gala Jazz at Lincoln Center atas undangan Wynton Marsalis. Lihat penampilannya di acara Grammy Awards 2016 di sini. Baca kisah tentang Joey selengkapnya di sini.

HG, 18-02-2016