Artikel

50 Perguruan Tinggi Indonesia Paling Produktif dalam Riset

Berdasarkan data Dikti per 21 Februari 2017, terdapat 4.490 perguruan tinggi di Indonesia, yang terdiri atas 1.104 akademi, 251 politeknik, 2.434 sekolah tinggi, 143 institut, dan 558 universitas. Para perguruan tinggi ini tentunya menghasilkan banyak lulusan setiap tahunnya. Lalu bagaimana kinerja mereka dalam pengembangan ilmu pengetahuan alias riset? Data di bawah ini menampilkan 50 perguruan tinggi Indonesia yang paling produktif dalam riset menurut database Scopus, dan Anda bisa mengira-ngira sendiri sisanya seperti apa. Sila tengok:

50-perguruan-tinggi-indonesia-di-scopus-21-februari-2017

HG, 21-02-2017

Advertisements

Sains45: Agenda Menyongsong Satu Abad Indonesia

SAINS45cover

Pada bulan Agustus tahun 2015, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menerbitkan sebuah buku penting berjudul “Sains45: Agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia Menyongsong Satu Abad Indonesia“. Buku ini ditulis oleh tim yang terdiri dari 17 ilmuwan Indonesia, berisi 8 bab, dengan total 45 tulisan. Hmmm, 17-8-45 ya.. Bila anda penasaran dengan isinya, buku Sains45 dapat diunduh dari situs AIPI.

H.G., 09-10-2015

Cerita dari Festival Anak Bertanya 2015

Oleh: Avivah Yamani*

Mengasah Kepekaan, Mencari Jawaban. Itulah tagline dari Festival Anak Bertanya yang diadakan di Sasana Budaya Ganesa ITB, tanggal 16 Juni 2015. Acara yang diselenggarakan oleh anakbertanya dan SABUGA ITB tersebut dimulai dari ide sederhana bahwa anak punya segudang pertanyaan yang butuh jawaban. Sayangnya, seringkali orangtua maupun guru tidak selalu memiliki jawaban tersebut. Ide yang dimulai dari pengadaan sebuah situs anakbertanya.com untuk menyediakan jawaban dari pertanyaan anak dengan melibatkan para pakar yang bekerja di bidangnya kemudian berkembang menjadi sebuah interaksi yang cukup rutin diadakan oleh anakbertanya bersama mitra kerjanya. Pada akhirnya ide tersebut berkembang dengan sebuah interaksi yang melibatkan lebih banyak lagi komunitas dan lembaga yang memang sering berinteraksi dengan anak.

Festival Anak Bertanya yang berlangsung meriah semenjak pagi hari tersebut disponsori oleh Prudential Indonesia dan diikuti oleh 28 komunitas, lembaga, institutsi yang berkecimpung dalam dunia anak.

Di FAB2015, para peserta yang kesehariannya dekat dengan anak tersebut berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang berasal dari dunia sains, pendidikan, seni, pengayaan, maupun hak asuh anak. Kalau disingkat, bisa kita katakan, FAB2015 membawa anak bertualang dan belajar dari Bumi sampai ke Alam Semesta. Bagaimana tidak, para pengunjung yang sebagian besar adalah anak-anak tersebut diajak untuk mengenal sains dari dekat. Sains yang mungkin sering diasosiasikan sebagai momok yang menakutkan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tak hanya itu, pengenalan sains dan budaya pun bisa diaplikasikan dalam permainan. Menyenangkan bukan? Matematika atau pelajaran sejarah yang kerap membosankan ternyata bisa menjadi super menyenangkan! Anak bisa mengenal tokoh sejarah dan berbagai kejadian yang terjadi di masa kemerdekaan Indonesia. Bahkan anak pun bisa mengenal budaya Indonesia lewat dongeng, dan belajar bercerita kepada teman-temannya.

Dan jangan salah. Anak-anak tidak sekedar diajak bermain, mereka pun bisa mengeksplorasi kemampuan untuk mebuat sendiri permainan mereka. Bahkan tak hanya permainan. Anak juga bisa belajar untuk membuat aplikasi yang dia inginkan atau juga robot. Tentunya semua anak pernah bermimpi dan bercita-cita untuk membuat sesuatu kan?

Dalam acara FAB2015 yang dilaksanakan selama sehari dan didukung juga oleh PT Pos Indonesia, PT LAPI ITB, ITB82, JG Motor dan PT Jaya Makmur Tangkas, anak yang hadir juga diajak untuk mengenal dan menjaga lingkungan. Ini penting untuk menanamkan prinsip pentingnya lingkungan dan bagaimana menjaganya semenjak dini. Penyajian film Petualangan Banyu menjadi salah satu cara untuk membangun kesadaran anak akan lingkungan.

Kreatifitas dan keberanian anak juga bisa dilatih lewat olah gerak seperti sepatu roda yang disajikan dengan sangat apik sementara para orang tua muda yang memimpikan generasi yang handal di masa depan juga ikut serta mengajak para orang tua dan anak untuk mengenal lebih jauh bagaimana pola pengasuhan anak yang baik. Dari sisi hak asuh anak, ada beberapa lembaga yang ikut serta yang juga menyajikan pengenalan tentang anak berkebutuhan khusus maupun lembaga mitra anakbertanya yang berkecimpung dalam penyediaan rumah bagi anak. Anak juga diberi informasi tentang bagaimana menabung dan mengelola keuangan oleh Prudential Indonesia.

Itu di Bumi! FAB2015 juga mengajak anak bertualang mengenal antariksa dan menjaga Bumi dari polusi cahaya. Pengenalan antariksa dari beberapa komunitas dan lembaga yang ikut terasa semakin nyata dalam sebuah petualangan antariksa ketika anak bisa menikmati itu dalam tayangan Planetarium Mini yang dibawa khusus oleh LAPAN.

Festival Anak Bertanya ini dikemas dalam bentuk semi pameran dimana para peserta memiliki booth tersendiri dan setiap anak bisa datang langsung berinteraksi atau bertanya pada para ahlinya, maupun pengenalan komunitas dan lembaga lewat presentasi interaktif di panggung. Di sini, para peserta harus dapat bercerita semenarik mungkin tentang siapa dirinya. Presentasi menjadi tidak membosankan, karena selain setiap peserta kreatif bercerita, acara juga diselingi oleh berbagai penampilan seperti tarian, musik daerah, maupun belajar menyanyi lagu-lagu yang memang khusus dibuat untuk anak.

Tapi, tak ada acara yang berakhir. Di penghujung hari, Festival Anak Bertanya 2015 pun ditutup dengan harapan setiap pengunjung cilik yang hadir bisa memperoleh jawaban dari pertanyaannya dan mengasah kreatifitas dan kemauan untuk mewujudkan mimpi mereka di masa depan. Dan yang pasti FAB2015 tidak akan berhenti sampai di sini. Sampai jumpa di FAB 2016.

*Avivah Yamani adalah salah seorang pendiri langitselatan.com.

Bandung, 19-06-15

Sastra dan Matematika

Oleh: A. Elwiq PR*

Kabar dari situs http://www.simonsfoundation.org merilis perkembangan mutahir dunia matematika. Maryam Mirzakhani (37 tahun), wanita asal Iran, meraih penghargaan bergengsi the Fields Medal. Penghargaan ini disebut-sebut sebagai Nobel-nya para matematikawan, yang awalnya diadakan oleh matematikawan asal Kanada, John Charles Fields, yang merancang medali dan mendanai penyelenggaraannya. Pada 2014 Mirzakhani terpilih sebagai wanita pertama penerima penghargaan yang sudah diberikan tiap empat tahun sekali sejak 1936. Selain penampilan sederhananya yang mengundang simpati, dalam wawancara dengan media ia justru berbicara tentang cita-citanya ketika kecil menjadi seorang penulis, bukan ilmuwan sebagaimana ia sekarang.

Profesor Mirzakhani dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, berbicara teori yang ia temukan dan rumuskan di jagat matematika dengan mengimajinasikan angka-angka pada cabang ilmu topologi, geometri, dan sistem-sistem dinamika, serupa cerita. Pengakuannya, “penelitian dalam matematika itu seperti menulis sebuah novel. Ada karakter yang berlainan satu sama lain, anda akan mengenalnya lebih baik kemudian. Segala sesuatunya saling mempengaruhi, selanjutnya anda kembali melihat karakter yang anda kenali di awal. Ada yang benar-benar berbeda dari kesan pertama yang kita tangkap.”

Ia lahir di Teheran, Iran. Sejak mula ia lebih tertarik membaca dan menulis fiksi ketimbang mengerjakan tugas matematika. Dalam pikirannya, ia hanya ingin membaca semua buku yang ia jumpai. Ia juga menonton televisi yang menayangkan film dokumenter perempuan terkemuka semisal Marie Curie dan Helen Keller. Ia terkesan dengan novel biografi Vincent van Gogh karya Irving Stone yang berjudul Lust For Life.

Apa istimewanya novel tersebut hingga Mirzakhani menyebutnya secara khusus? Banyak bagian dari novel tersebut memang memberikan ruang-ruang bernafas bagi para pemburu hakikat. Salah satunya percakapan Vincent dengan ayahnya sebagai berikut:

Suatu kali, ayahnya, yang mengira dia membaca untuk hiburan, berkata, “Vincent, kau selalu berbicara tentang betapa kerasnya kau harus bekerja. Lalu mengapa kau membuang-buang waktumu dengan semua buku Perancis yang konyol itu?”

Vincent meletakkan jarinya untuk menandai halaman novel yang sedang dibacanya, Le Pere Goriot karya Balzac, dan mendongak.

“Aku tidak bisa menggambar figur,” katanya, “tanpa mengetahui semua tentang tulang-tulang, otot-otot, dan urat-urat yang ada di dalamnya. Dan aku tak bisa menggambar kepala tanpa tahu apa yang terjadi di dalam otak dan jiwa orang itu. Untuk melukiskan kehidupan orang harus memahami tidak hanya anatomi, tetapi juga apa yang dirasakan dan dipikirkannya tentang dunia TEMPAT MEREKA TINGGAL. Seorang pelukis yang hanya paham akan ketrampilan tangannya sendiri dan bukan yang lain nantinya akan menjadi pelukis yang SANGAT DANGKAL.” (hal 148-149, Lust For Life, Irving Stone, 1934).

Dalam percakapan itu, kita tidak hanya mendapati kehidupan pelukis dalam arti sempit, tapi bagaimana proses seorang manusia memahami hidup dan ia padukan dengan pengetahuan, itulah yang tampaknya berpengaruh kuat pada kehidupan Mirzakhani kemudian hari.

“Dia punya lembaran-lembaran kertas besar dan digelar di lantai. Dia betah berjam-jam menggambar di atasnya. Bagi saya seperti membuat coretan-coretan yang terus diulang-ulang,” ujar Jan Vondrak, suaminya.

“Coretan-coretan itu membuat saya fokus,” sahut Mirzakhani.

Ketika memikirkan permasalahan matematika yang rumit ia tak mungkin menulis semuanya secara rinci, dengan menggambarnya akan sangat membantu entah bagaimana caranya tetap terhubung.

Rupanya, logika dan dialektika yang disampaikan Tan Malaka, berseru kuat dalam cara berpikir Mirzakhani. Tan Malaka menyebutnya sebagai jembatan keledai. Bahwa menurut Tan Malaka, bahkan lulusan SMP pun bisa belajar sendiri untuk sampai ke langit matematika selama cukup sabar dan mempunyai tempo atau irama. Bahwa ada warisan yang patut digarisbawahi dari pemikiran Tan Malaka, yakni untuk memahami logika dan dialektika, kita lebih dulu melatih dan mendidik diri sendiri dalam kerangka pikir geometris.

Ya, sejauh ini dunia sastra pun digelar oleh penulis yang mampu melahirkan karya adi di mana ia bisa memadukan dialog yang hidup antar tokoh, sekaligus bagaimana alur cerita dibuatkan rumusan logis yang hanya penulisnya sendiri yang mampu menguraikan. Kemudian pembaca dibuat menebak-nebak bagaimana bisa sampai di akhir cerita. Begitu pun yang Vincent van Gogh lakukan seumur hidup. Ia berkutat dengan ribuan eksperimen yang baginya bukan sedang menghasilkan karya tapi terus-menerus memperkuat ekspresinya dalam karya.

Artinya, bila diterapkan hari-hari ini sebagaimana yang digerakkan bapak dan ibu guru dengan Kurikulum 2013, jelas memberikan ruang luas bagi anak didik maupun pendidik untuk bereksperimen menemukan coretan-coretan yang bukan hanya indah dipandang tapi membongkar pola pikir, tak lagi mengotak-ngotakkan cabang-cabang ilmu secara kaku. Kuncinya satu, banyak-banyak membaca agar imajinasi peserta didik dan pendidik terus tumbuh, kuat, dan kokoh. Itukah yang terjadi di sekolah-sekolah belakangan ini?

*A. Elwiq PR adalah seorang penulis cerpen yang tinggal di Malang, Jawa Timur.

Bandung, 15-10-2014

Membangun Perekonomian Berbasis Iptek*

Di tengah hiruk-pikuk Pilpres 2014 ketika itu, ada berita menggembirakan tentang perekonomian Indonesia yang berhasil masuk sepuluh besar dunia (Kompas, 3 Mei 2014). Saat itu, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan menyatakan bahwa Indonesia kini sejajar dengan negara-negara lain yang tergolong maju (Kompas.com, 5 Mei 2014). Negara-negara yang dimaksud adalah Amerika Serikat, Tiongkok, India, Jepang, Jerman, Rusia, Brasil, Perancis, dan Inggris.

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat ini memang mencapai angka yang fantastis, yaitu sekitar Rp 10.000 triliun. Namun, bila kita bagi dengan jumlah penduduk Indonesia, maka kita dapatkan PDB per kapita sekitar Rp 45 juta. Dengan angka ini, Indonesia berada di urutan ke-125, jauh berada di bawah Malaysia, Suriname, bahkan Namibia.

Ada dua hal yang penting untuk dicatat terkait dengan isu ini. Pertama, tanah air Indonesia memang kaya dengan sumberdaya alam, dan dari situlah PDB yang besar kita raup. Namun, jumlah penduduk kita juga besar, sehingga PDB yang besar tadi belum memberikan kesejahteraan bagi masyarakat secara umum. Kedua, untuk mendongkrak PDB per kapita, kita tidak dapat seterusnya mengandalkan kekayaan sumberdaya alam Indonesia. Suatu terobosan perlu digagas untuk perekonomian Indonesia ke depan.

Bila selama ini kita terpaku pada peran Pemerintah dan para pelaku usaha dalam meningkatkan perekonomian Indonesia, maka salah satu terobosan yang perlu dilakukan adalah memperkuat elemen ketiga, yaitu perguruan tinggi (PT) dan lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan (litbang).

Negara-negara maju seperti Inggris dan Jepang membangun perekonomiannya tidak di atas sumberdaya alam tetapi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang mereka kembangkan. Di sinilah PT dan lembaga litbang memainkan peran pentingnya. Dalam hal ini pula kita menyadari mengapa PDB per kapita masih rendah, yaitu karena perekonomian kita belum diwarnai dengan kemajuan iptek yang kita kembangkan sendiri.

Pilpres 2014 telah berlalu. Apakah kita kemudian dapat berharap pada Pemerintah baru, yang akan dipimpin oleh duo Jokowi-JK kelak?

*Dicuplik dari artikel Membangun Perekonomian Berbasis Iptek yang dimuat di Kompas, 3 September 2014.

HG, 02-10-2014

Aku Suka Sejarah. Aku Bisa Jadi Apa? **

Oleh: Andi Achdian*

Kamu menyukai pelajaran sejarah? WOW! Apakah kamu juga menyukai kisah-kisah tempo dulu anggota keluargamu? Tentang Ayah dan Ibumu? Tentang Kakek dan Nenek, dan siapa saja yang lahir terlebih dahulu sehingga kamu ada di dunia ini?

Kalau sekarang kamu bertanya tentang cita-cita apa yang cocok untuk kamu yang suka pelajaran sejarah, saya pun memiliki rasa penasaran yang sama. Sungguh! Akan menjadi apa kamu di masa depan nanti?

Pertanyaanmu mendorong saya untuk membuka-buka buku di perpustakaan, membaca kisah-kisah para penemu, petualang, dan juga pemimpin besar yang namanya ada dalam catatan sejarah. Eureka! Saya girang seperti Archimedes, tetapi tidak berlari telanjang. Kebanyakan di antara orang-orang besar itu, mereka adalah orang-orang yang menyukai sejarah seperti kamu juga.

Sebagai contoh, coba kamu lihat kisah hidup Sukarno, presiden pertama dan pendiri negara Republik Indonesia. Sejak usia kanak-kanak, ia menyukai segala sesuatu bersifat sejarah. Ia suka wayang. Ia suka kisah raja-raja Nusantara. Ia pun gemar dengan cerita-cerita para raja dan kaisar di benua Eropa, nun jauh dari tempat kelahirannya. Perhatikan juga pidato-pidatonya. Sukarno tidak pernah lupa mengutip kata-kata bijak dan perbuatan tokoh-tokoh besar dalam sejarah, atau juga peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Si pencinta sejarah ini pun menjadi mahasiswa teknik yang belajar arsitektur di Bandung. Bayangkan!

Akhirnya, izinkan saya mengatakan dua hal.

Pertama, kesukaanmu terhadap sejarah membuka mata hati paling dalammu menjadi seorang manusia. Ia adalah busur dan anak panah yang membantumu membidik cita-cita yang paling jauh dan paling tinggi yang bisa kamu bayangkan. Silakan membidik apa saja. Apakah kamu ingin menjadi ilmuwan, dokter, penyair, wartawan, guru atau dosen di perguruan tinggi. Apapun.

Kedua, kecintaanmu terhadap sejarah mungkin akan menjadikanmu sebagai sejarawan profesional. Kamu akan melakukan banyak hal yang menyenangkan. Mengumpulkan surat-surat tua untuk menguak cerita masa lalu yang hilang. Mungkin itu adalah surat cinta Ayah kepada Ibumu. Mungkin juga kamu menemukan dokumen-dokumen yang jarang orang mau menyentuhnya, tetapi ternyata ia membawamu pada satu rahasia tentang riwayat penting negerimu.

*Andi Achdian adalah seorang sejarawan. Saat ini ia sedang menempuh program doktor di FIB UI.

**Tulisan ini dimuat di anakbertanya.com sebagai jawaban terhadap pertanyaan seorang anak tentang cita-cita apa yang cocok baginya yang menyukai pelajaran Sejarah.

Bandung, 29-08-2014

Menerawang Masa Depan Indonesia

Pemilihan umum untuk anggota legislatif telah berlalu, pemilihan Presiden menanti. Seperti apa ya masa depan bangsa Indonesia 5 tahun ke depan? Apakah Pemerintah yang baru akan mengantarkan bangsa memasuki pintu gerbang yang dijanjikan dalam Pembukaan UUD RI 1945? Rasanya kita belum melalui pintu gerbang itu, ‘kan? Bahkan saat ini kita tidak melihat pintu gerbang itu ada di mana.

Berbicara tentang 5 tahun ke depan, kita memang perlu melihat apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah. Namun, bila kita berbicara tentang 10-20 tahun ke depan, siapa yang kita tengok? Menurut hemat saya, untuk bisa membayangkan nasib bangsa 10-20 tahun ke depan, tengoklah perguruan tinggi kita: apa yang dilakukan di sana, apa yang telah dihasilkan, dan apa yang sedang dikembangkan.

Lalu, bila kita ingin punya gambaran seperti apa negara kita 25-40 tahun yang akan datang, perhatikanlah anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Apakah yang sedang mereka lakukan? Syukurlah bila mereka memiliki semangat belajar yang tinggi, jangan redam keingintahuan mereka. Namun, apa yang mereka pelajari, perlu kita cermati. Masa depan bangsa ada di tangan mereka.

HG, 22-04-2014