Wirausahawan

Raymond R. Tjandrawinata dan Obat Herbal

raymond

Pada penganugerahan Habibie Award 2016, ada sosok menarik yang menggulirkan kata sciencepreneurship — ia adalah Raymond R. Tjandrawinata, arek Suroboyo, anak dari seorang TNI AL – Lukito Tjandrawinata – Veteran Pejuang Angkatan 1945. Raymond menyebut dirinya sebagai seorang industrial scientists. Rupanya, dugaan sebagian besar orang selama ini bahwa di Indonesia tidak ada industri yang berbasis riset salah. PT Dexa Medica, tempat di mana Raymond bekerja sebagai Direktur Eksekutif, adalah contoh penyangkalnya. Industri yang berkecimpung dalam obat-obatan herbal ini memproduksi obat berbasis riset yang mereka lakukan, yang dipimpin oleh Raymond. Publikasinya tak kalah produktif dari para peneliti di perguruan tinggi. Atas inovasinya dalam pengembangan obat-obatan, pada awal tahun 2015, PT Dexa Medica meraih penghargaan dari Menko bidang Pengembangan Manusia dan Kebudayaan. Raymond sendiri pernah mendapat The Swa Indonesia Future Business Leader Award dan diangkat sebagai ‘Fellow‘ oleh The Royal Society of Chemistry dan The Society of Biology. Pada tanggal 5 Oktober 2016, ia menerima Habibie Award dalam Bidang Ilmu Kedokteran & Bioteknologi.

H.G., 07-10-2016

Advertisements

Achmad Zaky dan Bukalapak.com

AchmadZaky

Siapa yang tak kenal Achmad Zaky, seorang pemuda asal Sragen, Jawa Tengah, yang baru berusia 30 tahun itu? Ia  adalah alumnus Teknik Informatika ITB, angkatan 2004. seorang pengusaha yang bergerak di bidang internet. Bersama teman kuliahnya, Nugroho Herucahyono, Zaky merintis Bukalapak.com sejak tahun 2011, dengan tujuan memberdayakan para pelaku usaha kecil dan menengah di Indonesia, yaitu dengan memberikan wadah (di dunia maya) kepada mereka untuk berjualan dan menemukan pembeli produk mereka. Bukalapak.com sekarang telah dikenal sebagai salah satu perusahaan e-commerce Indonesia berbasis marketplace C2C.

HG, 14-04-2016

Nadiem Makarim dan Go-Jek

Nadiem_Makarim

Nadiem Makarim, pemuda yang baru memasuki usia kepala tiga itu, adalah anak dari seorang ayah asal Pekalongan dan ibu asal Pasuruan. Pada tahun 2015 ini, ia meluncurkan PT Go-Jek Indonesia, sebuah perusahaan ojek modern berbasis aplikasi smartphone. Bila anda telusuri rekam jejak pendidikannya, anda tidak akan terkejut. Setelah lulus SMA dari Singapura, ia melanjutkan studi ke Brown University di AS. Gelar MBA-nya kemudian diperoleh dari Harvard Business School. Sempat bekerja di McKinsey & Co Jakarta, Nadiem kemudian memutuskan untuk menekuni dunia ojek, dan lahirlah Go-Jek yang fenomenal itu. Simak gagasannya di sini.

HG, 16-08-2015