Sains45: Agenda Menyongsong Satu Abad Indonesia

SAINS45cover

Pada bulan Agustus tahun 2015, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menerbitkan sebuah buku penting berjudul “Sains45: Agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia Menyongsong Satu Abad Indonesia“. Buku ini ditulis oleh tim yang terdiri dari 17 ilmuwan Indonesia, berisi 8 bab, dengan total 45 tulisan. Hmmm, 17-8-45 ya.. Bila anda penasaran dengan isinya, buku Sains45 dapat diunduh dari situs AIPI.

H.G., 09-10-2015

Nadiem Makarim dan Go-Jek

Nadiem_Makarim

Nadiem Makarim, pemuda yang baru memasuki usia kepala tiga itu, adalah anak dari seorang ayah asal Pekalongan dan ibu asal Pasuruan. Pada tahun 2015 ini, ia meluncurkan PT Go-Jek Indonesia, sebuah perusahaan ojek modern berbasis aplikasi smartphone. Bila anda telusuri rekam jejak pendidikannya, anda tidak akan terkejut. Setelah lulus SMA dari Singapura, ia melanjutkan studi ke Brown University di AS. Gelar MBA-nya kemudian diperoleh dari Harvard Business School. Sempat bekerja di McKinsey & Co Jakarta, Nadiem kemudian memutuskan untuk menekuni dunia ojek, dan lahirlah Go-Jek yang fenomenal itu. Simak gagasannya di sini.

HG, 16-08-2015

Cerita dari Festival Anak Bertanya 2015

Oleh: Avivah Yamani*

Mengasah Kepekaan, Mencari Jawaban. Itulah tagline dari Festival Anak Bertanya yang diadakan di Sasana Budaya Ganesa ITB, tanggal 16 Juni 2015. Acara yang diselenggarakan oleh anakbertanya dan SABUGA ITB tersebut dimulai dari ide sederhana bahwa anak punya segudang pertanyaan yang butuh jawaban. Sayangnya, seringkali orangtua maupun guru tidak selalu memiliki jawaban tersebut. Ide yang dimulai dari pengadaan sebuah situs anakbertanya.com untuk menyediakan jawaban dari pertanyaan anak dengan melibatkan para pakar yang bekerja di bidangnya kemudian berkembang menjadi sebuah interaksi yang cukup rutin diadakan oleh anakbertanya bersama mitra kerjanya. Pada akhirnya ide tersebut berkembang dengan sebuah interaksi yang melibatkan lebih banyak lagi komunitas dan lembaga yang memang sering berinteraksi dengan anak.

Festival Anak Bertanya yang berlangsung meriah semenjak pagi hari tersebut disponsori oleh Prudential Indonesia dan diikuti oleh 28 komunitas, lembaga, institutsi yang berkecimpung dalam dunia anak.

Di FAB2015, para peserta yang kesehariannya dekat dengan anak tersebut berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang berasal dari dunia sains, pendidikan, seni, pengayaan, maupun hak asuh anak. Kalau disingkat, bisa kita katakan, FAB2015 membawa anak bertualang dan belajar dari Bumi sampai ke Alam Semesta. Bagaimana tidak, para pengunjung yang sebagian besar adalah anak-anak tersebut diajak untuk mengenal sains dari dekat. Sains yang mungkin sering diasosiasikan sebagai momok yang menakutkan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tak hanya itu, pengenalan sains dan budaya pun bisa diaplikasikan dalam permainan. Menyenangkan bukan? Matematika atau pelajaran sejarah yang kerap membosankan ternyata bisa menjadi super menyenangkan! Anak bisa mengenal tokoh sejarah dan berbagai kejadian yang terjadi di masa kemerdekaan Indonesia. Bahkan anak pun bisa mengenal budaya Indonesia lewat dongeng, dan belajar bercerita kepada teman-temannya.

Dan jangan salah. Anak-anak tidak sekedar diajak bermain, mereka pun bisa mengeksplorasi kemampuan untuk mebuat sendiri permainan mereka. Bahkan tak hanya permainan. Anak juga bisa belajar untuk membuat aplikasi yang dia inginkan atau juga robot. Tentunya semua anak pernah bermimpi dan bercita-cita untuk membuat sesuatu kan?

Dalam acara FAB2015 yang dilaksanakan selama sehari dan didukung juga oleh PT Pos Indonesia, PT LAPI ITB, ITB82, JG Motor dan PT Jaya Makmur Tangkas, anak yang hadir juga diajak untuk mengenal dan menjaga lingkungan. Ini penting untuk menanamkan prinsip pentingnya lingkungan dan bagaimana menjaganya semenjak dini. Penyajian film Petualangan Banyu menjadi salah satu cara untuk membangun kesadaran anak akan lingkungan.

Kreatifitas dan keberanian anak juga bisa dilatih lewat olah gerak seperti sepatu roda yang disajikan dengan sangat apik sementara para orang tua muda yang memimpikan generasi yang handal di masa depan juga ikut serta mengajak para orang tua dan anak untuk mengenal lebih jauh bagaimana pola pengasuhan anak yang baik. Dari sisi hak asuh anak, ada beberapa lembaga yang ikut serta yang juga menyajikan pengenalan tentang anak berkebutuhan khusus maupun lembaga mitra anakbertanya yang berkecimpung dalam penyediaan rumah bagi anak. Anak juga diberi informasi tentang bagaimana menabung dan mengelola keuangan oleh Prudential Indonesia.

Itu di Bumi! FAB2015 juga mengajak anak bertualang mengenal antariksa dan menjaga Bumi dari polusi cahaya. Pengenalan antariksa dari beberapa komunitas dan lembaga yang ikut terasa semakin nyata dalam sebuah petualangan antariksa ketika anak bisa menikmati itu dalam tayangan Planetarium Mini yang dibawa khusus oleh LAPAN.

Festival Anak Bertanya ini dikemas dalam bentuk semi pameran dimana para peserta memiliki booth tersendiri dan setiap anak bisa datang langsung berinteraksi atau bertanya pada para ahlinya, maupun pengenalan komunitas dan lembaga lewat presentasi interaktif di panggung. Di sini, para peserta harus dapat bercerita semenarik mungkin tentang siapa dirinya. Presentasi menjadi tidak membosankan, karena selain setiap peserta kreatif bercerita, acara juga diselingi oleh berbagai penampilan seperti tarian, musik daerah, maupun belajar menyanyi lagu-lagu yang memang khusus dibuat untuk anak.

Tapi, tak ada acara yang berakhir. Di penghujung hari, Festival Anak Bertanya 2015 pun ditutup dengan harapan setiap pengunjung cilik yang hadir bisa memperoleh jawaban dari pertanyaannya dan mengasah kreatifitas dan kemauan untuk mewujudkan mimpi mereka di masa depan. Dan yang pasti FAB2015 tidak akan berhenti sampai di sini. Sampai jumpa di FAB 2016.

*Avivah Yamani adalah salah seorang pendiri langitselatan.com.

Bandung, 19-06-15

Yudi Pawitan dan Biostatistika

Dari namanya, jelas ia orang Indonesia. Pendidikan SD, SMP, dan SMA yang bersangkutan ditempuh di Bogor, demikian juga dengan pendidikan sarjananya. Ia mengantongi gelar Sarjana Statistika dari IPB pada tahun 1982. Sempat bekerja di IBM Jakarta pada tahun 1982, ia kemudian melanjutkan studi ke AS, tepatnya ke University of California Davis pada tahun 1983-1987, mendalami bidang yang diminatinya, yaitu Statistika. Setelah mendapatkan gelar doktor pada tahun 1987, ia sempat bekerja sebagai assistant professor di University of Washington pada 1987-1991, sebagai lecturer di National University of Ireland pada 1991-2001, dan akhirnya sebagai professor di Karolinska Institutet sejak 2001 hingga sekarang. Bidang keahliannya adalah Statistical Genetics, Biostatistics, Bioinformatics, dan Molecular Biology (Cancer). Tengok profil lengkapnya di sini.

HG, 27-04-2015

200 Top Scientists in Indonesia according to Google Scholar

Baru-baru ini, Webometrics mengumumkan 200 ilmuwan “terkemuka” di tiap negara berdasarkan profil/sitasi mereka di Google Scholar. Database ini diakui masih mengandung “mistakes and gaps“, namun merupakan upaya yang perlu diapresiasi dalam rangka memetakan kapasitas ilmuwan di tiap negara.

Lihat: 200 Top Scientists in Indonesia based on GSC Profiles (yang diumumkan oleh Webometrics pada Februari 2015).

HG, 20-02-2015

Ferry Iskandar dan Rekayasa Material

Setelah mendapat Anugerah Habibie untuk bidang Ilmu Dasar pada bulan November 2014, Dr.Eng. Ferry Iskandar meraih Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Tahun 2014 untuk kategori Hak Cipta bidang Ilmu Pengetahuan.

Ferry Iskandar meraih gelar doktor dalam bidang Rekayasa Material dari Universitas Hiroshima, Jepang, pada tahun 2002. Sempat mengajar di Universitas Hiroshima beberapa tahun, ia kemudian memutuskan pulang ke tanah air dan sejak Juli 2010 menjadi dosen di Kelompok Keilmuan Fisika Material Elektronik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung. Untuk mengenal lebih jauh sosok yang bersangkutan, tengok laman pribadinya di sini.

HG, 10-12-2014

Sastra dan Matematika

Oleh: A. Elwiq PR*

Kabar dari situs http://www.simonsfoundation.org merilis perkembangan mutahir dunia matematika. Maryam Mirzakhani (37 tahun), wanita asal Iran, meraih penghargaan bergengsi the Fields Medal. Penghargaan ini disebut-sebut sebagai Nobel-nya para matematikawan, yang awalnya diadakan oleh matematikawan asal Kanada, John Charles Fields, yang merancang medali dan mendanai penyelenggaraannya. Pada 2014 Mirzakhani terpilih sebagai wanita pertama penerima penghargaan yang sudah diberikan tiap empat tahun sekali sejak 1936. Selain penampilan sederhananya yang mengundang simpati, dalam wawancara dengan media ia justru berbicara tentang cita-citanya ketika kecil menjadi seorang penulis, bukan ilmuwan sebagaimana ia sekarang.

Profesor Mirzakhani dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, berbicara teori yang ia temukan dan rumuskan di jagat matematika dengan mengimajinasikan angka-angka pada cabang ilmu topologi, geometri, dan sistem-sistem dinamika, serupa cerita. Pengakuannya, “penelitian dalam matematika itu seperti menulis sebuah novel. Ada karakter yang berlainan satu sama lain, anda akan mengenalnya lebih baik kemudian. Segala sesuatunya saling mempengaruhi, selanjutnya anda kembali melihat karakter yang anda kenali di awal. Ada yang benar-benar berbeda dari kesan pertama yang kita tangkap.”

Ia lahir di Teheran, Iran. Sejak mula ia lebih tertarik membaca dan menulis fiksi ketimbang mengerjakan tugas matematika. Dalam pikirannya, ia hanya ingin membaca semua buku yang ia jumpai. Ia juga menonton televisi yang menayangkan film dokumenter perempuan terkemuka semisal Marie Curie dan Helen Keller. Ia terkesan dengan novel biografi Vincent van Gogh karya Irving Stone yang berjudul Lust For Life.

Apa istimewanya novel tersebut hingga Mirzakhani menyebutnya secara khusus? Banyak bagian dari novel tersebut memang memberikan ruang-ruang bernafas bagi para pemburu hakikat. Salah satunya percakapan Vincent dengan ayahnya sebagai berikut:

Suatu kali, ayahnya, yang mengira dia membaca untuk hiburan, berkata, “Vincent, kau selalu berbicara tentang betapa kerasnya kau harus bekerja. Lalu mengapa kau membuang-buang waktumu dengan semua buku Perancis yang konyol itu?”

Vincent meletakkan jarinya untuk menandai halaman novel yang sedang dibacanya, Le Pere Goriot karya Balzac, dan mendongak.

“Aku tidak bisa menggambar figur,” katanya, “tanpa mengetahui semua tentang tulang-tulang, otot-otot, dan urat-urat yang ada di dalamnya. Dan aku tak bisa menggambar kepala tanpa tahu apa yang terjadi di dalam otak dan jiwa orang itu. Untuk melukiskan kehidupan orang harus memahami tidak hanya anatomi, tetapi juga apa yang dirasakan dan dipikirkannya tentang dunia TEMPAT MEREKA TINGGAL. Seorang pelukis yang hanya paham akan ketrampilan tangannya sendiri dan bukan yang lain nantinya akan menjadi pelukis yang SANGAT DANGKAL.” (hal 148-149, Lust For Life, Irving Stone, 1934).

Dalam percakapan itu, kita tidak hanya mendapati kehidupan pelukis dalam arti sempit, tapi bagaimana proses seorang manusia memahami hidup dan ia padukan dengan pengetahuan, itulah yang tampaknya berpengaruh kuat pada kehidupan Mirzakhani kemudian hari.

“Dia punya lembaran-lembaran kertas besar dan digelar di lantai. Dia betah berjam-jam menggambar di atasnya. Bagi saya seperti membuat coretan-coretan yang terus diulang-ulang,” ujar Jan Vondrak, suaminya.

“Coretan-coretan itu membuat saya fokus,” sahut Mirzakhani.

Ketika memikirkan permasalahan matematika yang rumit ia tak mungkin menulis semuanya secara rinci, dengan menggambarnya akan sangat membantu entah bagaimana caranya tetap terhubung.

Rupanya, logika dan dialektika yang disampaikan Tan Malaka, berseru kuat dalam cara berpikir Mirzakhani. Tan Malaka menyebutnya sebagai jembatan keledai. Bahwa menurut Tan Malaka, bahkan lulusan SMP pun bisa belajar sendiri untuk sampai ke langit matematika selama cukup sabar dan mempunyai tempo atau irama. Bahwa ada warisan yang patut digarisbawahi dari pemikiran Tan Malaka, yakni untuk memahami logika dan dialektika, kita lebih dulu melatih dan mendidik diri sendiri dalam kerangka pikir geometris.

Ya, sejauh ini dunia sastra pun digelar oleh penulis yang mampu melahirkan karya adi di mana ia bisa memadukan dialog yang hidup antar tokoh, sekaligus bagaimana alur cerita dibuatkan rumusan logis yang hanya penulisnya sendiri yang mampu menguraikan. Kemudian pembaca dibuat menebak-nebak bagaimana bisa sampai di akhir cerita. Begitu pun yang Vincent van Gogh lakukan seumur hidup. Ia berkutat dengan ribuan eksperimen yang baginya bukan sedang menghasilkan karya tapi terus-menerus memperkuat ekspresinya dalam karya.

Artinya, bila diterapkan hari-hari ini sebagaimana yang digerakkan bapak dan ibu guru dengan Kurikulum 2013, jelas memberikan ruang luas bagi anak didik maupun pendidik untuk bereksperimen menemukan coretan-coretan yang bukan hanya indah dipandang tapi membongkar pola pikir, tak lagi mengotak-ngotakkan cabang-cabang ilmu secara kaku. Kuncinya satu, banyak-banyak membaca agar imajinasi peserta didik dan pendidik terus tumbuh, kuat, dan kokoh. Itukah yang terjadi di sekolah-sekolah belakangan ini?

*A. Elwiq PR adalah seorang penulis cerpen yang tinggal di Malang, Jawa Timur.

Bandung, 15-10-2014